DATASET POHON INDUSTRI AYAM PEDAGING
Hak Cipta
DATASET POHON INDUSTRI AYAM PEDAGING
Dataset pohon industri ayam pedaging merupakan kompilasi data yang disusun secara sistematis dalam bentuk pohon industri untuk menggambarkan keterkaitan rantai nilai dari sektor hulu hingga hilir. Dataset ini mengintegrasikan klasifikasi HS Code, data paten, serta data ekspor–impor, sehingga memberikan gambaran komprehensif mengenai struktur industri, penguasaan teknologi, dan potensi nilai tambah industri ayam pedaging di Indonesia. Pohon industri yang dikembangkan merepresentasikan rantai nilai secara terstruktur, mulai dari tahap hulu yang mencakup industri pakan, pembibitan (breeding), dan penyediaan input produksi, hingga tahap produksi (on-farm), pengolahan, dan hilir berupa berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi. Struktur ini menggambarkan keterkaitan antar proses, teknologi, dan jenis produk secara hierarkis, sehingga memberikan pemahaman menyeluruh mengenai alur transformasi produk dari ayam hidup hingga menjadi produk industri strategis. Pengembangan pohon industri ini berbasis dataset teranotasi dan terstruktur menggunakan HS Code, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat visualisasi, tetapi juga sebagai dasar analisis, klasifikasi, dan pemodelan hubungan industri. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun rantai nilai industri ayam pedaging di Indonesia relatif lengkap, struktur industrinya masih didominasi oleh aktivitas produksi primer, sementara nilai tambah terbesar terkonsentrasi pada sektor pengolahan dan pengembangan produk turunan. Pada tahap hulu, industri pakan, pembibitan, dan input produksi menjadi fondasi utama dengan tingkat konsentrasi tinggi serta penguasaan teknologi yang relatif lebih maju. Sebaliknya, pada tahap produksi, peternak sebagai tulang punggung industri cenderung berada pada posisi dengan margin rendah akibat ketergantungan terhadap input dan fluktuasi harga, yang mencerminkan ketimpangan distribusi nilai tambah di sepanjang rantai industri. Transformasi nilai tambah terutama terjadi pada tahap pengolahan, ketika ayam hidup diubah menjadi produk segar atau beku (HS Code 0207), yang menjadi titik awal peningkatan nilai ekonomi. Namun demikian, keterbatasan kapasitas dan adopsi teknologi pengolahan menyebabkan potensi nilai tambah belum dimanfaatkan secara optimal. Nilai tambah tertinggi selanjutnya terkonsentrasi pada tahap hilir, khususnya pada produk olahan seperti nugget, sosis, dan makanan siap saji (HS Code 1602). Meskipun demikian, data perdagangan menunjukkan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk kategori ini, yang mengindikasikan belum kuatnya industri hilir domestik. Temuan ini diperkuat oleh data paten yang menunjukkan dominasi negara maju dalam inovasi teknologi pengolahan dan pengawetan. Selain produk utama, pohon industri ayam pedaging juga mencakup pemanfaatan hasil samping menjadi berbagai produk turunan, seperti tepung tulang, kolagen, dan bahan bioindustri lainnya. Segmen ini memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan ekonomi sirkular, namun tingkat pemanfaatannya di Indonesia masih relatif terbatas. Secara keseluruhan, integrasi data menunjukkan adanya keterkaitan erat antara klasifikasi produk, dinamika perdagangan, dan penguasaan teknologi, di mana produk bernilai tambah tinggi umumnya didukung oleh inovasi berbasis paten dan memiliki kontribusi signifikan dalam perdagangan internasional. Secara strategis, temuan ini menegaskan bahwa tantangan utama industri ayam pedaging di Indonesia tidak lagi terletak pada peningkatan produksi, melainkan pada transformasi struktur industri melalui hilirisasi dan penguatan inovasi. Tanpa pengembangan sektor pengolahan, peningkatan penguasaan teknologi, serta diversifikasi produk turunan, Indonesia berisiko tetap terperangkap sebagai produsen bahan mentah dengan nilai tambah rendah. Oleh karena itu, pengembangan pohon industri ayam pedaging perlu difokuskan pada penguatan industri hilir berbasis teknologi, peningkatan kapasitas inovasi domestik, serta integrasi sistem produksi dan distribusi yang efisien guna meningkatkan daya saing global dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi seluruh pelaku industri.
2026-1776658722-vdin
Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan
tiar001@brin.go.id
Badan Riset dan Inovasi Nasional
UND - Undifiend
Jakarta
20 April 2026
EC002026066614
18 Mei 2026
18 Mei 2026
001236324
- Tiara Grace Franzisca L
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Agung Prabowo
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Nugroho Adi Sasongko
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Dudi Iskandar
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Edi Iswanto Wiloso
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Abd. Azis Wasil
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Andi Nurul Khasanah Bestari P. Iskandar
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Ermin Widjaja
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Ira Nurhayati Djarot
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Forita Dyah Arianti
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Renni Diastuti
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Suryani
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Miranti Dian Pertiwi
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Rodiah Nurbaya Sari
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Ramos Hutapea
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Fensa Eka Widjaya
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Arif Dwi Santoso
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Fatim Illaningtyas
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan ) - Ulfa Ning Thiyas
( Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan )